SAHABAT SELAMANYA

3:16 PM 0
Kumpulan Cerpen - Disana terlihat dua orang anak perempuan yang kelihatan bahagia. Mereka tertawa dan bercanda berdua. Ternyata mereka berdua adalah sahabat. Mereka berdua mernama Adell dan Airin. Mereka takkan terpisahkan. Adell dan airin sudah saling kenal sejak kecil. Mereka berdua tdk pernah terpisah. Mereka sekelas bahkan satu bangku.

Pagi harinya di sekolah…
“Rin……” sapa Adell. Tapi yang biasanya mereka sangat akrab, sekarang berubah terbalik. Airin tidak menjawab sapaan Adell. Dia hanya pergi menjauh dari Adell sambil merintih seperti menangisi sesuatu. Adell sangat bingung, airin adalah sahabat nya tapi mengapa dia berubah menjauhi Adell.


Dikelas mereka berdua hanya diam diaman. Airin hanya memandangi wajah Adel dengan mata yang berkaca kaca. Saat Adell menyapanya, dia hanya meneteskan air mata. Dia gak mau bicara apa masalah nya, padahan Adell itu sahabatnya. Hingga suatu hari bangku Airin kosong, dia pindah ke bangku dipojok kelas yang jauh Dari Adell. Apa yang terjadi dengan nya?. Dia bukan Airin yang seperti biasanya.
Apakah Airin marah pada Adel?. Tapi gak mungkin. Soalnya Adel itu sahabatnya. Adell gak mau sahabat satu satunya pergi.
Adell takut Airin arah padanya. Adelpun meletakkan secarik surat kecil di depan rumah Airin. Surat itu tertulis…….
Airin….. kamu marah ya sama aku. Kalo aku salah bilang aja aku bakal minta maaf sama kamu. Sorry ya sebagai sahabat aku gak bias jadi seperti yang kamu inginkan. Kalo kamu udah gak mau jadi sahabatku lagi aku gak bakal marah, tapi hati kecilku ini tetap sedih kalo kamu gak mau jadi sahabatku lagi. Kuharap kamu cepat membalasnya

Dari Adell
Adell selalu memeriksa kotak surat di depan rumah nya, berharap ada surat balasan dari Airin. Tapi hasilnya selalu nihil. Gak ada satu surat pun di kotak surat tua itu. Adell sudah tak sanggup menunggu lagi. Dimalam yang dingin ini dia langsung berjalan cepat menuju rumah Airin. Adell tak bisa berhenti sebelum sampai di rumah Airin. Tiba tiba langkah nya berhenti mendadak tepat di tujun nya, rumah Airin. Adell melihat Airin sedang menangis di depan jendela sambil memegang surat dari Adell. Disitu terlihat Adell kebingungan, kenapa Airin nangis baca surat dari Adell???.
“Airin……..”teriak Adell dari depan rumah Airin. Tapi disitu Airin malah pergi. Dan tak terlihat lagi Airin di depan jendela. Adell pun pergi dengan langkah pelannya dan sekali kali menoleh ke belakang mengharapkan Airin keluar dari rumah nya.

Keesokan harinya, di papan absen tertulis nama “Airin”. Adell pun menoleh kearah bangku Airin yang jauh darinya. Ternyata benar, Airin gak masuk. Sekarang di hari hari Adell udah gak ada canda dan tawa lagi bersama Airin. Mungkin Airin “udah punya sahabat yang lebih baik dari ku”pikir Adell.
Adell sangat tidak bersemangat melangkah pulang kerumah nya. Biasanya Adell pulang sama Airin. Sekarang Adell hanya sendrian. Disitu terlihat Adell sudah hampir meneteskan air mata kesepian.
Sesampainya di rumah, Adell melihat ada surat di dalam kotak surat depam rumahnya. Adell pun membuka kotak surat tua itu perlahan lahan, dan mengambil surat di dalam nya. Disitu Adell sangat terkejut, itu surat dari Airin.

Surat itu tertulis……
Maaf ya Dell, Aku bukan gak mau jadi sahabat kamu lagi. Cuma setiap aku ngeliat kamu, rasanya pengen nangis. Aku bakal pergi ke luar kota. Aku sedih setiap ngeliat kamu, soalnya kita bakal berpisah lama. Mungkin kalo sudah satu tahun aku pergi kamu bias jemput sku di bandara, itu juga kalo kamu gak lupa sama aku. Bentar lagi aku mau berangkat ke bandara, selamat tinggal

Dari Airin
Belum sempat Adell ganti baju, Adell langsung lari ke rumah Airin. Adell lihat, rumah Airin kosang. Tiba tiba terdengat suara mobil. Suara mobil itu terdengar dari garasi Airin. Tiba tiba mobil Airin keluar dari garasi dan didalam nya ada Airin yang melambaikan tangan pada Adell. “Selamat tinggal Adell, semoga satu tahun kedepan kita masih bias bertemu” teriak Airin semakin mengecil.
Semejak itu Adell sering terlihat menyendiri. Adell terlihat kesepian tanpa Airin yang biasa menemani nya. Adell tak sabar satu tahun berlalu. Hingga penantiannya pun tercapai. Sudah satu tahun berlalu. Tidak lupa Adall segera menuju bandara. Adell terus menunggu tanpa ada kata lelah. Waktupun terus berjalan, sudah dua puluh empat jam Adell menunggu, tapi gak ada tenda tanda dari Airin.
Keluarga Adell udah kebingungan mencari Adell. Semua tempat kesukaan Adell udah di cari, tapi Adell tetap gak ketemu. Orang tua Adell gak berfikir mencari Adell ke bandara.

Tiga hari tiga malan Adell menunggu. Hingga Akhirnya Adell putus asa. “mungkin Airin udah gak mau kembali lagi” pikir Adell. Dengan langkah kecilnya Adell pun mencoba berjalan pulang. Dengan sedikit tenaga yang Adell miliki, akhirnya Adell bias pulang. Adell langsung disambut senang oleh keluarganya.
“Sayang… kamu kemana aja? Kok gak pulang pulang?? Mama ambilin teh ya??” Tanya mama bertubi tubi. Adell hanya bias menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian mama datang dengan memegang secangkir teh. Tapi, tiba tiba teh itu terjatuh. Disitu Adell sudah tergeletak di lantai. “sayang….sayang bangun kamu kenapa?”ucap mama kebingungan. Ternyata Adell udah gak ada. “Adell jangan tinggalin mama, mama sayang Adell”teriak mama sambil menetaskan air mata.

Adell pun di makamkan di sebelah makam mewah. “selamat tinggal ya sayang, semoga kamu tetap inget sama mama. Mama tetap doain kamu, mama bekal terus sayang kamu walau gak bias mama ucapkan langsung di depan mu mama tetap selalu ada buat kamu sayang GOOD BYE FOREVER” ucap mama di depan makan Adell. Ternyata makam meweh di sebelah makam Adell itu………. Makam Airin. Airin sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Gak ada yang bisa ngabarin Adell soalnya semua keluarga Airin tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Walau begitu mereka tetap Abadi menjadi sahabat walau gak dibumi lagi. (Cerpen Anak)
**TAMAT**

PROFIL PENULIS
Nama : Monica Sucianto
Kelas : 6 SD

Hening di Ujung Senja

3:12 PM 0
Kumpulan Cerpen - Ia tiba-tiba muncul di muka pintu. Tubuhnya kurus, di sampingnya berdiri anak remaja. Katanya itu anaknya yang bungsu. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua?

“Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau Toba,” katanya memperkenalkan diri. Wau, kataku dalam hati. Itu enam puluh tahun yang lalu. Ketika itu masih anak kecil, usia empat tahun barangkali. “Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula,” katanya melanjutkan. Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Belum juga dapat kutebak siapa mereka. Ia seakan-akan mengetahui siapa mereka sesungguhnya. “Wajahmu masih seperti dulu,” katanya melanjutkan. “Tidakkah engkau peduli kampung halaman?” tanyanya. “Tidakkah engkau peduli kampung halamanmu?” tanyanya membuat aku agak risih. Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk membangun kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual. Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benakku.



“Rumah kita dahulu berhadap-hadapan, ya?” kataku. Ia mengangguk. “Kalau begitu, kau si Tunggul?”

“Ya,” jawabnya dengan wajah yang mulai cerah.

Lalu ia mengatakan perlunya tanah leluhur dipertahankan. “Jangan biarkan orang lain menduduki tanahmu. Suatu saat nanti, keturunanmu akan bertanya-tanya tentang negeri leluhur mereka,” katanya dengan penuh keyakinan. “Kita sudah sama tua. Mungkin tidak lama lagi kita akan berlalu. Kalau kau perlu bantuan, aku akan menolongmu.”

“Akan kupikirkan,” kataku. “Nanti kubicarakan dengan adik dan kakak,” jawabku.

Pertemuan singkat itu berlalu dalam tahun. Pembicaraan sesama kakak-beradik tidak tiba pada kesimpulan. Masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Dan ketika aku berkunjung ke kampung halaman, kutemukan dia dengan beberapa kerabat dekat lainnya. Kudapati ia terbaring di tempat tidur, di ruangan sempit dua kali dua meter. Beberapa slang oksigen di hidungnya. Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, “Kudengar kau datang. Beginilah keadaanku. Sudah berbulan-bulan.” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. Aku tidak mungkin berbicara mengenai tanah itu. Kuserahkan persoalannya kepada keluarga dekat.

Dalam kesibukan, waktu jua yang memberi kabar. Seorang kerabat dekat, waktu berjumpa di Jakarta, berbisik padaku, “Tunggul sudah tiada, pada usia yang ke-67.”

“Oh, Tuhan,” kataku kepada diriku sendiri. Kami lahir dalam tahun yang sama. Sebelum segala sesuatu rencana terwujud, usia telah ditelan waktu! Giliranku? bisikku pada diriku.

***

Rendi selalu datang dalam mimpi. Diam-diam, lalu menghilang. Dahulu ia teman sekantor. Tetapi, karena mungkin ingin memperbaiki nasib, ia mengirim istrinya ke Amerika, justru ingin mengadu nasib. Ia menyusul kemudian, dengan meninggalkan pekerjaan tanpa pemberitahuan. Lewat Bali, Hawaii, ia sampai ke California. Di negeri penuh harapan ini ia memulai kariernya yang baru, bangun subuh dan mengidari bagian kota, melempar-lemparkan koran ke rumah-rumah. Entah apalagi yang dilakukannya, demi kehidupan yang tidak mengenal belas kasihan.

Setahun berada di sana, ia kehilangan istrinya, derita yang membawa duka karena kanker payudara. Sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah. Barangkali hidup tidak mengenal kompromi. Kerja apa pun harus dilakukan dengan patuh. Tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup. Tiada kawan untuk membantu. Semua bertahan hidup harus berkejaran dengan waktu. Dari agen koran subuh, sampai rumah jompo dari siang sampai senja, lalu pulang ke apartemen, merebahkan diri seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kehidupan.

Dari kesunyian hati itu, ia cuti ke tanah air, untuk mencari teman hidup pada usia senja.

Tetapi, dalam kesunyian di tanah air, ia mengembara seorang diri, dengan bus dan kereta api. Seperti seorang turis, suatu senja, entah serangan apa yang mendera dadanya, barangkali asmanya kumat. Ia terkulai di ruang hajat. Di sebuah stasiun kereta, petugas mencoba membuka kamar toilet. Menemukan kawan itu dalam keadaan tidak bernyawa. Identitas diketahui dengan alamat di Los Angeles. Petugas stasiun menghubungi nama yang tertera di Los Angeles. Dari Los Angeles datang telepon ke alamat di Bandung. Dari Bandung berita disampaikan kepada anaknya, tetapi kebetulan sedang ke Paris. Jenazah dibawa ke rumah anaknya, dan dimakamkan kerabat dekat yang ada di kota “Y”.

Tragis, pada usia ke-64 itu, ia mengembara jauh merajut hidup, tapi ia berhenti dalam kesepian, jauh dari kenalan dan kerabat. Beberapa kenalan saja yang menghantarnya ke tempat istirah.

Terlalu sering ia datang di dalam mimpi yang membuatku galau.

***

Beberapa waktu kemudian, aku mendapat SMS. Aku berhenti di pinggir jalan ramai dan mencoba membaca berita yang masuk.

Lusiana baru saja meninggal dunia. Tutup usia menjelang ulang tahun ke-61.

Besok akan dimakamkan. Kalau sempat, hadirlah.

Lusiana seorang sekretaris eksekutif yang hidup mati demi kariernya. Ia lupa kapan ia pernah disentuh rasa cinta, sampai cinta itu pun ditampiknya. Menjelang usia renta, ia menyaksikan ayah dan ibunya satu demi satu meninggalkan hidup yang fana. Juga abangnya, pergi mendadak entah menderita penyakit apa. Karier tidak meninggalkan bekas. Tidak ada ahli waris. Kawan-kawan meratapinya, dan melepasnya dalam kesunyian hati.

Hening di atas nisannya. Burung pun enggan hinggap dekat pohon yang menaungi makamnya.

Tidak biasa aku berlibur dengan keluarga. Kepergian ini hanyalah karena anak yang hidup di tengah keramaian Jakarta, yang berangkat subuh dan pulang menjelang tengah malam dari kantornya. Ada kejenuhan dalam tugasnya yang rutin, membuat ia mengambil keputusan libur ke Bali bersama orang tua. Aku yang terbiasa masuk kantor dan pulang kantor selama puluhan tahun, kerapkali lupa cuti karena tidak tahu apa yang harus dilakukan waktu cuti. Dan kini, aku duduk di tepi laut Hindia, menyaksikan ombak memukul-mukul pantai, dan sebelum senja turun ke tepi laut, matahari memerah dan bundar, cahaya keindahan Tuhan, sangat mengesankan ratusan orang dari pelbagai bangsa terpaku di atas batu-batu.

Tiba-tiba ada dering di HP istriku, sebuah SMS dengan tulisan:

Tan, Ibu Maria baru saja meninggal dunia. Kasihan dia. Di dalam Kitab Sucinya banyak mata uang asing.

Ibu Maria menyusul suaminya yang sudah bertahun-tahun meninggal dunia, dalam usianya yang ke-72. Ia pekerja keras sepeninggal suaminya yang dipensiunkan sebelum waktunya. Suaminya meninggal dalam usia ke-67 saat anaknya berpergian ke luar negeri dan tidak hadir ketika penguburannya.

Ibu Maria meninggal mendadak.

***

Aku baru saja menerima telepon dari kakakku yang sulung, dalam usianya yang ke-78. Kudengar suaranya gembira, walaupun aku tahu sakitnya tidak kunjung sembuh. Kalimat terakhirnya dalam telepon itu berbunyi: Tetaplah tabah, Dik. Kamu dan anak-anakmu, semua anak cucuku dan buyut, supaya mereka tetap sehat….

Dan tadi pagi, aku teringat. Usia menjelang ke-70, walaupun sebenarnya belum sampai ke situ, aku bertanya-tanya kepada diriku, jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini, dan jejak-jejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku?

Aku tepekur.

Hening di ujung senja. (Cerpen Harian Kompas)

Seragam

3:09 PM 0

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.

Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.


Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”

”Kenangan.”

”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”

Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.

Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.

”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.

”Tanggung,” jawabnya.

Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.

Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.

Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!

”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!

Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.

Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.

”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.

”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”

Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.

Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.

”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”

”Ulahnya?” Dia mengangguk.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya. (cerpen harian kompas)

Dia Menikah, Meninggalkanku…

2:59 PM 0


Jika berharap pada manusia, persiapkan diri Anda untuk kecewa

Sehabis rapat aku tergesa-gesa meninggalkan sekre. Dengan langkah-langkah panjang kuterjang cuaca terik siang ini. Walau dengan sedikit berkeringat tapi Alhamdulillah jilbab yang melindungiku sejak 6 tahun yang lalu mampu menaungiku dari sengatan panas si raja siang ini, begitu juga dengan rok dan blus lengan panjang yang kukenakan mampu melindungi tangan dan kakiku dari kegosongan.
Aku terus melangkahkan kakiku dengan hati dan pikiran yang berkecamuk. Ah cuaca siang ini seolah menggambarkan kondisi hatiku, PANAS. Beberapa kali aku beristighfar memohon ampun pada Allah atas kekerdilan diri, namun tetap saja tidak membuatku tenang. Bahkan semakin kupikirkan semakin terbakar rasanya hati ini, SAKIT. Faghfirli ya Allah…
Sesampai di kos segera kutaruh tasku yang lumayan berat, aku ingin menenangkan hati. Tanpa berlama-lama segera kubasuh muka, tangan, menyapu kepala, membasuh kaki, ya WUDHU’. Baru saja membaca ta’awusy kristal bening ini tidak terbendung lagi, aku menangis. Kucoba hadirkan diri dan hati untuk terus membaca dan memahami surat cinta-Nya yang mulia. Alhamdulillah aku menemukan ketenteraman.

Usai tilawah kurebahkan tubuhku, ku arahkan tatapanku lurus-lurus menembus langit-langit kamar yang putih. Di sana, tampak berkelebatan kembali seperti slide, bayangan kejadian beberapa waktu yang lalu. Kuurung niat tidur siang karena mata ini benar-benar gak bisa terpejam. Hmm, aku mencoba mencari kesibukan lain.

Baru saja aku mencoba membaca buku “Nasihat Pelembut Hati” milik seorang Saudara yang aku pinjam, kristal bening ini tiba-tiba membuncah saat aku menemukan kalimat “BANYAK ORANG HINA BISA MELAKUKAN KEBAIKAN NAMUN HANYA ORANG MULIA YANG MAMPU MENINGGALKAN MAKSIAT”. Dada ini kembali sesak saat aku teringat akan kebodohan yang aku lakukan, aku menangis sejadi-jadinya berharap dosa-dosa ikut terhanyut dalam aliran air mataku. Aku menghentikan bacaanku.

Aku tahu sampai sekarang Allah masih menyembunyikan aibku, kalau bukan karena aku yang bercerita tentulah tidak ada yang akan tahu, seorang pun. Kalimat ini benar-benar memberikan cambuk yang begitu dahsyat buatku, sebegitu hinakah aku?? Robb, aku jadi teringat wajah saudara-saudaraku yang begitu percaya akan keteguhan iman dan keistiqamahanku. Bahkan tak jarang juniorku mengatakan ”aku ingin seperti kakak, aku ingin militan seperti kakak, kak ajari kami tentang ketegaran dan ketegasan” atau kata-kata lain yang menggambarkan bahwa seolah aku adalah akhwat yang hebat yang patut dijadikan panutan. Padahal kini aku sudah rapuh, ALLAH, Aku benar-benar malu…

Mataku masih kelihatan sembab saat sahabat terbaikku datang mengunjungiku. Dhira, gadis berdarah Jawa inilah satu-satunya tempatku berkeluh kesah. Bawaannya yang begitu ceria namun tenang mampu membuatku nyaman di sampingnya. Walau kerap setiap ceritaku yang dia anggap sebagai kebodohan, akan dia tanggapi dengan taushiyah yang menghujam, lembut tapi tegas dan tetap saja aku tidak pernah bosan curhat padanya, sebab kutahu apa yang dikatakannya adalah yang terbaik untukku.

“Assalamu’alaikum, sehat cinta?” khas sapa hangatnya setiap kali bertemu aku. “Alhamdulillah”, jawabku lirih.
“Pasti ada apa-apa ne. Hey.., kamu kenapa? Ceritalah!!!” penasaran akan keadaanku.
“Nggak ada apa-apa Ra” jawabku, khawatir kalau ceritaku kali ini akan benar-benar membuat dia marah.
“Hmm, aku tahu, ini pasti ada kaitannya dengan si “Itonk” itu”, begitulah ia menyebut seorang ikhwan yang selama ini banyak membuat aku harus mengeluarkan air mata. Astaghfirullah…
Aku mengangguk kemudian tertunduk.
“Rha…..” aku tak kuasa menahan tangis dan dengan cepat ia memelukku dalam dekapannya yang hangat.
“Tia sabar, tenangkan hatimu, Istighfar. Coba cerita, apalagi yang dia lakukan terhadapmu?” Bukannya bercerita, tangisku malah kian sangat.
“Rha, dia akan menikah minggu depan dengan akhwat lain”.
“Firdaus maksudmu? Menikah? Akhwat lain? Siapa?”.

Firdaus, ikhwan yang selama ini banyak kutaruh harapan tiba-tiba kutemukan cerita kalau ia akan menikah. Setelah selama 1 tahun menjalin hubungan dengannya. Begitu saja ia meninggalkan aku, padahal ia sudah pernah berjanji akan menikahiku, bahkan sampai datang ke rumah menemui orang tuaku untuk meyakinkan kalau ia benar-benar serius. Bahkan aku pun sudah pernah dikenalkan kepada keluarganya.

Seharusnya aku tidak perlu kaget dengan cerita ini, karena suatu hari ia pernah mengatakan padaku kalau ia tidak akan bisa menikahiku karena alasan Ibunya yang menginginkan ia menikah dengan perempuan yang memiliki pekerjaan tetap. Aku pikir ini adalah alasan yang dibuat-buat, karena pada saat itu kami ada sedikit masalah.

Dan ternyata kali ini dia akan benar-benar menikahi akhwat lain, seorang akhwat PNS. Aku tak tahu apakah aku menangis karena sakit hati kalau ia akan menikah dengan akhwat lain ataukah karena baru tersadar dengan kebodohanku selama ini. Aku begitu menyesal pernah terperangkap dalam cinta palsunya, semakin menyesal terlebih karena hubungan kami sudah terlalu jauh, tidak hanya sebatas sms-sms-an atau telepon-teleponan yang begitu romantis, bahkan kami sudah pernah jalan berduaan. ASTAGHFIRULLAH YA RABB…

Aku juga merasa berdosa pada Dhira, karena setiap kali ia menasihatiku dan meminta agar aku menghentikan “hubungan” dengan seorang ikhwan sebelum menikah, setiap kali pula aku berjanji akan mengakhiri semuanya. Tapi di belakangnya aku masih saja mengulangi kebodohan ini, dengan kesalahan yang sama dan dengan orang yang sama. Yang lebih membuatku menyesal lagi, aku pernah berfikir untuk mengakhiri persahabatan dengan Dhira karena kupikir ia terlalu ikut campur dengan masalah pribadiku, tapi karena kesabarannya menasihatiku dan selalu setia di sampingku maka kalimat itu tidak pernah terucap. Dan aku bersyukur tidak melakukan itu padanya.
Dhira memegang bahuku, “Tia dengarkan aku, kamu harus bisa tegar. Bersyukurlah karena kamu tidak jadi menikah dengan dia, dia bukanlah orang yang baik buatmu. Ingatkan, berapa kali ia menyakitimu. Kalau ia sanggup melakukan ini sebelum kalian menikah maka tidak akan menutup kemungkinan dia akan menyakitimu saat setelah menikah. Ia ikhwan terburuk yang pernah aku kenal, maka aku tidak akan pernah ridha kalau ia menikahimu. Mulai sekarang, berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan ini. Kumohon kali ini dengarkan aku, dulu aku selalu memintamu agar tidak menjalin hubungan dengan ikhwan sebelum ia benar-benar halal bagimu, tapi kamu tidak pernah hiraukan nasihatku. Tia aku sayang kamu, maka aku menginginkan yang terbaik buatmu. Yakinlah orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat juga. Menikahnya dia tidak akan membuat bumi berhenti berputar dan tidak harus membuatmu berhenti melangkah. Masih ada waktu memperbaiki segalanya, di luar sana masih banyak ikhwan yang mulia yang senantiasa mampu menjaga iffah dan izzah, berdoa saja semoga Allah mempersiapkan salah satunya untuk kita”, Dhira mengakhiri nasihatnya untuk menenangkan aku.

Sekarang aku hanya mampu berdoa agar aku, sahabatku Dhira, Anda dan orang-orang shalih dijauhkan dari kesalahan seperti ini, dan tidak pernah mengalami kedukaan ini.
 “Kini semakin ku yakin, kemaksiatan tidak akan pernah berakhir dengan keindahan”.
Allah, dengan apa aku menebus kesalahan ini, terimalah sujud taubatku….


Jangan Pergi, Dinda…

2:57 PM 0
Sekarang aku hanya bisa melihat senyumnya dalam bayanganku saja. Tak pernah lagi aku melihatnya tertawa riang seperti dulu ketika ia tak begini. Jika pun ia tertawa, itu hanya lah ekspresi kegilaannya. Bukan lagi wujud kewarasan.
Aku harus bolak-balik ke panti rehabilitasi ini, melihat kondisinya yang seperti mayat hidup, antara ada dan tiada. Tubuh kurus, layu dan tatapan hampa. Ia seperti terbuai dalam mimpinya sendiri, entah apa. Ingin rasanya aku masuk dalam khayalnya itu, agar aku tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkannya.
Antara sedih dan marah tiap kali aku melihat sesosok tubuh tak bersemangat itu. Bayangku selalu tertuju pada reka adegan setahun silam, yang ketika ku teringat, hati ini bagai terhujam sembilu. Tangis tercekat di tenggorokanku. Perih!


***
            “APA kegiatanmu hari ini?” tanyaku padanya pagi itu.
“Aku akan pergi dengan Rio. Ada pesta kecil-kecilan di rumahnya. Hari ini dia ulang tahun.” jawabnya sambil terus berdandan.
“Siapa saja yang pergi?”
“Aku dan beberapa teman dekatnya.”
“Sampai jam berapa?”
“Sudahlah, Rika…. Berhentilah bersikap seolah kau adalah ibuku!”
***
Jam dinding menunjukkan pukul 22.50 WIB. Teman-teman kos yang lain sudah menikmati tidurnya. Hanya satu kamar yang penghuninya masih terbangun. Aku. Menunggu sahabatku yang tak kunjung pulang sejak pertengkaran kami sore tadi. Berulang kali aku menghubungi nomor ponselnya, tidak aktif.
Aku mulai risau. Tak biasanya dia begini. Aku bergegas mengambil jaket, tas dan kunci motorku. Melaju di kebingaran kota ini menuju tempat yang aku tak tahu pasti apakah seorang yang aku cari ada di sana. Hingga tibalah aku pada alamat yang ku tuju, tapi rumah besar bercat hijau itu tampak sepi.
“Assalamu’alaikum, Pak…” sapaku pada lelaki paruh baya yang kudapati tengah duduk santai di pos jaga rumah ini.
“Wa’alaikumsalam, Dek. Cari siapa?” jawabnya.
“Rio ada, Pak? Saya mau memberi hadiah ini. Hari ini dia mengundang saya ke pesta ulang tahunnya. Dia bilang pestanya diadakan di rumah. Tapi kenapa terlihat sepi ya, Pak? Apa pestanya sudah selesai?” jawabku agak gugup. Beliau melihat ke arah tanganku. Sebelum sampai ke sini, aku mampir terlebih dahulu ke toko penjualan berbagai jenis kado. Aku hanya membeli kotak kadonya saja. Hanya itu, untuk sekadar berpura-pura, jikalau seandainya aku menemui kejadian begini. Bertemu penjaga rumahnya.
“Pestanya ada, Dek. Di lantai dua. Tapi… “
“Tapi apa, Pak?”
“Kenapa adek baru datang jam segini, dan…. pakaian adek, apa tidak salah?” aku terdiam. Kembali memutar otak untuk menjawab kecurigaan bapak ini.
“Saya baru pulang dari kegiatan kampus, Pak. Belum sempat pulang untuk ganti baju, langsung buru-buru ke sini. Memangnya kenapa, Pak? Kucel ya?” Aku menjawab seadanya. Ya Allah, aku berbohong lagi…. Sebenarnya aku merasa takut, tak pernah aku keluar rumah semalam ini. Belum lagi perasaan bersalah. Apa pantas jilbaber sepertiku keluar rumah tengah malam begini? Tapi bagaimana lagi, aku benar-benar khawatir dengan sahabatku. Allah, maafkan aku…. Doaku lirih…
“Bukan, tapi jilbabnya itu lho…. “
“Memangnya kenapa, Pak?” jawabku menyelidik. Malam itu aku mengenakan rok santika warna hijau, dan jaket model Army untuk menutup jilbab panjangku.
“Ya, aneh. Masa pergi pesta begini, dandanannya kaya mau pergi pengajian. Yang di dalam malah hanya pakai rok-rok pendek. “Kata beliau sedikit nyengir. Aku hanya cengengesan, menyembunyikan kecemasanku yang semakin menjadi-jadi. Pesta begini? Maksudnya?
“Bapak ini bisa saja… Memangnya pestanya, pesta bagaimana, Pak?”
“Ngga tau lah, Bapak. Tapi bapak sarankan adek jangan ikuti pesta ini. Kecuali kalau jilbab adek ini cuma topeng.” kata beliau sambil membuka pintu pagar.
Aku tersenyum getir, ketika mendengar kalimat bapak ini. Setelah pagar di buka, aku masuk sambil membawa motorku. Aku masuk lewat pintu bagasi setelah aku memarkirkan motorku tak jauh dari pos jaga, begitu arahan dari Pak Agus, bapak penjaga tadi.
Ruang yang pertama ku masuki ini adalah dapur. Tak ada siapa-siapa di sini. Masuk ke ruang tengah, terdengar suara music dari lantai atas. Cukup keras. Aku melihat ke lantai atas, Dengan agak gugup aku menapaki satu per satu anak tangga. Teringat akan kalimat Pak Agus tadi. Tapi bapak sarankan adek jangan ikuti pesta ini. Kecuali kalau jilbab adek ini cuma topeng.
Aku tiba di bibir atas tangga. Tanpa izin, aku bergabung dengan mereka. Pesta yang tidak beres ternyata, ku lihat botol minuman keras ada di mana-mana. Mungkin karena itulah mereka tak begitu menyadari kehadiranku. Remang. Ada beberapa wajah yang ku kenal, tapi yang ku cari tak kunjung ku temukan. Yang ada hanya sekitar delapan orang. Ada empat pasang muda-mudi yang “teler” di ruang tengah lantai atas ini. Aku terus mencari. Kususuri satu persatu sudut ruangan dengan tetap berdiri di bibir tangga. Mataku tertuju pada jam dinding yang cukup besar di ruangan ini, pukul 01 dini hari. Di pojok kanan, ku lihat ada kamar yang sedikit terbuka pintunya. Dengan lancang aku masuk tanpa memberi aba-apa, dan…
Tanganku dengan gesit menarik kerah baju seorang pria. Ku lihat ia hendak menyuntikkan sesuatu ke lengan gadis lugu yang ku kenal. Ku tarik sekuat tenaga hingga ia terhempas menghujam lemari yang berada tepat di belakangnya. Gadis ini duduk setengah sadar di sofa kamar ini. Dengan sigap aku membuka ikatan kain yang mengikat lengan kanannya. Tapi aku merasa ada yang datang dengan cepat dari arah belakangku, lalu….
Aku diam. Beku. Ku lihat ada aliran darah segar mengucur dari kepala gadis yang ku sayangi ini. Kakiku terasa lemas. Harusnya vas bunga yang hendak dihujamkan lelaki itu mengenai kepalaku, namun aku berhasil mengelak, tapi serangan itu akhirnya salah sasaran.
Aku berang. Ku dekati lelaki yang juga tengah terpaku itu secepat kilat. Ku layangkan kepalan tangan kananku menuju pipi kirinya. Ia sempoyongan. Ku pukuli lagi dan lagi. Suara music yang cukup keras dari luar membuat yang lain tak menyadari apa yang tengah terjadi di kamar ini. Aku lihat lelaki itu tak berdaya. Aku pun kelelahan. Sudah lama aku tak mempraktekkan ilmu karate sabuk hitamku, sejak aku memilih untuk berjilbab.
Aku menelepon seorang teman yang punya koneksi ke kepolisian di kota ini. Beberapa saat dua mobil polisi menyambangi rumah yang tengah mengadakan pesta miras dan narkoba tersebut. Rio si pemilik rumah jadi sasaran utama. Tak lupa aku meminta polisi-polisi ini untuk mendatangkan ambulance. Sahabatku butuh pertolongan.
“Maaf, Pak… Saya hanya ingin menjemput teman saya. Saya tidak tahu jika akhirnya begini. “Kataku kepada Pak Agus.
“Tidak apa, Dek. Semoga dengan ini, Rio jadi sadar. Bapak tidak bisa berbuat banyak. Orang tua Rio sebentar lagi akan kemari. “
Polisi memboyong seluruh peserta pesta untuk dimintai keterangan tentang kejadian malam itu, termasuk Pak Agus. Aku bergegas mengikuti ambulance yang membawa temanku ke rumah sakit. Ia mengalami pendarahan di kepalanya.
***
Aku menatap lekat wajah yang pucat pasi itu. Aku memeluknya dalam. Ku harap ia merasakan kerinduan di hatiku ini atas dirinya yang dulu, sebelum mengenal lelaki yang kini mendekam di penjara, sebelum mengenal pergaulan yang merusak cita-citanya, sebelum ia mengenal dunia yang ia katakan bisa menghilangkan kesedihannya ditinggal mati kedua orang tuanya, sekitar lima bulan sebelum kejadian malam itu. Tangisku berderai tak henti. Hati ini sakit menyesali kejadian malam itu. Mulutku merucau mengungkapkan penyesalanku. Isi hatiku yang tak terbendung mengharapkan kesembuhannya.
“Din, apa yang kini kau rasakan. Bicaralah… katakan padaku. Aku merindukanmu… aku rindu saat kita makan berdua, bercanda, belajar bersama. Bicaralah, Din! Sadarlah!” kataku sambil memegang bahunya dan sedikit mengguncang tubuhnya, berharap ada reaksi dari sahabatku ini. Tapi nihil.
Lama aku memeluknya sambil terus membelai punggungnya yang terasa ringkih. Aku sesegukan menahan sakit di hatiku ini. Aku mendekapnya erat. Lalu, ku rasakan basah dan hangat di bahu kananku. Aku melepaskan pelukanku padanya. Ku lihat ia menangis.
“Aku mau menyusul ibu dan ayahku. Kau ingin ikut, Rika?” Tanyanya datar. Aliran darah terasa deras ku rasa dalam tubuhku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Ia tersenyum, manis sekali.
“Jangan pergi, Dinda… Kau harus sembuh!“ bisikku. Aku memeluknya lagi sambil menahan haru. Asa ku tumbuh mendengarnya bicara. Lafazku tak henti berdoa, memohon kesembuhan kepada Sang pemegang nyawa. Lama, hingga kurasakan tubuhnya melemah. Lunglai. Dingin. Akhirnya beku dan kaku.
“Dinda……..!!” Karya Maharani Yas